orang lain tak akan membagun tanah papua

walaupun orang indonesia banyak pintar pandai, dan berakal budi luar biasa namun, tidak akan memimpin bangsa papua. bangsa papua akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri. dan Bicara Papua Merdeka berarti bicara kebenaran, bicara kebenaran berarti bicara Firman Tuhan. Anda yang bermain-main dengan tanah Papua maka tahun hidupmu diperpendek Tuhan. lihatlah Upaya-upaya indonesia untuk menghabiskan Rakyat Bangsa Papua kini bukan lagi dengan operasi militer tetapi secara sistematis dan terencana mencari celah untuk menciptakan konflik ujung-ujungnya bermuarah pada konflik horisontal yaitu konflik antara orang papua dengan orang papua sendiri Selain konflik horisontal ada juga dengan cara yang dilakukan oleh oknum BIN mencari kesempatan yang tepat untuk menciptakan sebuah konflik agar situasi politik yang mengarah pada konflik horizontal. Dalam hal ini Orang Asli Papua (OAP) sengaja di bunuh secara perlahan-lahan melalui berbagai macam upaya atau kegiatan misalnya: pemekaran, pemilu, pilkada, pembangunan, penerimaan pegawai (CPNS) dan bermacam-macam isu lainya.

Kamis, 02 Juli 2015

Mahasiswa Desak Jokowi segerah tuntaskan Kasus Paniai Berdarah Dan Penembakan Dogiai Papua

Surabaya, Hari Kamis kemarin (02/07/2015), puluhan Mahasiswa Papua menggelar aksi damai di depan gedung Negara Grahadi Surabaya, Jawa Timur.
Mahasiswa menuntut Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo untuk segera menuntaskan kasus Paniai berdarah dan penembakan di Dogiyai
Dalam kasus Pania berdarah tanggal 8 Desember 2014, sebanyak 4 siswa ditembak mati. Belasan lainnya luka-luka. Dalam kasus penembakan di Ugapuga, Dogiyai pada 26 Juni 2015, satu orang ditembak mati dan 7 lainnya luka-luka. Kedua persitiwa ini diduga kuat dilakukan oleh oknum aparat keamanan Indonesia.
 
“Jokowi jangan hanya sekedar Janji,” ujar koordinator aksi solidaritas, Donatus Douw.
Douw menjelaskan, pelanggaran HAM serupa telah terjadi di seantero tanah Papua. Dogiyai berdarah, Biak Bberdarah, Nabire berdarah, Abe berdarah, Wamena berdarah, Waghete berdarah, Wasior berdarah, dan apalagi baru kemarin terjadi di Ugapuga, Dogiyai dan Paniai serta semua pelanggaran HAM di tanah Papua.
 
Masa aksi menuntut 3 hal:
Pertama, segera menarik kembali para TNI/Polri serta para Intelejen Indonesia yang bertugas di seluruh tanah Papua.
 
Kedua, segera tuntaskan semua kasus pelanggaran HAM di seluruh Papua, khususnya yang baru- baru ini terjadi di Paniai dan Ugapuga, Dogiyai.
 
Ketiga, segera buka ruang demokrasi di Papua dengan masuknya jurnalis asing tanpa syarat.

Berikut Foto Aksi: